Monday, April 20, 2015

jatuh untuk bangkit, kan?

gagal untuk belajar dari kesalahan, kan?


Saturday, April 18, 2015

Wall-E vs Doraemon




Maukah kita terbangun di pagi hari dengan layar di depan mata yang tersenyum mengucapkan selamat pagi, serta kasur yang langsung membawa kita menuju kamar mandi? Ataukah pulang ke rumah dan disambut dengan sebuah robot kucing super canggih yang bisa mengeluarkan alat apa saja untuk menolong masalah kita? Dikemas dalam kartun hiburan keluarga, dua peristiwa ini pasti sudah tidak asing lagi, bahkan dalam khayalan anak-anak zaman sekarang. Betapa dimanjanya manusia dengan semua teknologi yang kelak akan ditemukan di masa depan. Walaupun sesungguhnya, Wall-E dan Doraemon mempunyai makna jauh lebih dalam daripada itu. 

Mari kita lihat adegan lain dalam kedua film animasi tersebut. Dikisahkan di Wall-E bahwa seluruh manusia pindah dari bumi karena planet tersebut sudah dianggap tidak layak huni. Banyak sampah bertumpukan, udara kotor, badai pasir, dan lahan gersang tanpa tanaman. Mereka lebih memilih tinggal di sebuah pesawat luar angkasa di mana seluruh teknologi canggih nan mutakhir siap melayani sepanjang hari. Sementara pada kartun Doraemon, robot kucing ini sengaja dikirim oleh cucu dari Nobita untuk memperbaiki masa kecil dari kakeknya yang malang. Roti Penghafal, Pintu ke Mana Saja, Senter Pengecil, mendapati robot abad 21 di dunia abad 20 pun sukses membalikkan kehidupan Nobita 180 derajat. 

Pertanyaannya; masa depan manakah yang akan kita pilih?

Teknologi memang satu komponen penting yang mengiringi kehidupan manusia. Dimulai dari menemukan api atau sebuah pengungkit sederhana, kini manusia bahkan bisa ‘berpindah tanpa kaki’. Tak banyak orang yang sadar bahwa hanya butuh 63 tahun dari manusia menemukan pesawat terbang hingga akhirnya bisa mendaratkan kaki di bulan. Betapa teknologi berkembang dengan pesatnya di sekitar kita tanpa kita sadari. Manusia dianugerahi akal untuk berpikir, hal itulah yang membedakan spesies ini dengan makhluk lain. Yang Mencipta bahkan jelas-jelas memerintahkan manusia untuk berpikir dan mengamati alam. Jika kita menelaah satu persatu, tak akan ada habisnya rahasia dari alam semesta ini yang bisa dikupas. Tak akan berhenti solusi-solusi dan penemuan terbaru muncul untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan. Memang tak akan seinstan Doraemon yang bisa mengeluarkan Pintu ke Mana Saja saat Nobita terancam telat berangkat ke sekolah, tetapi perkembangan ini terus menerus terjadi tanpa henti, sedikit demi sedikit. Satu penemuan dari seseorang akan menginspirasi –bahkan membantu seorang yang lain untuk menemukan solusi dari masalah lainnya. Sekelompok orang hidup untuk mengembangkan teknologi yang pada akhirnya akan digunakan sekelompok orang lainnya untuk menyelesaikan masalah lain. Konsep manusia sebagai makhluk sosial sangat berperan di sini. 

Sesungguhnya masa depan berada di tangan seluruh umat manusia, baik orang-orang yang mengembangkan teknologi ataupun yang menyelesaikan urusan lain. Simpelnya, memilih dunia seperti Wall-E atau Doraemon di masa depan, itu bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Kerusakan bumi seperti yang dialami Wall-E berawal dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan, ditambah dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat dan memanjakan. Pada akhirnya mereka memilih untuk meninggalkan bumi yang sudah terlanjur ‘rusak’. Tergiur dengan jalan pintas untuk melanjutkan kehidupan di atas pesawat luar angkasa saja, daripada repot-repot memperbaiki tempat tinggal mereka yang lama. 

Berbeda dengan manusia abad 21 pada Doraemon. Kita tidak tahu apa yang telah mereka lakukan untuk membangun masa depan, tetapi katakanlah mereka sudah cukup sukses dalam mengembangkan teknologinya sehingga bahkan punya waktu luang hanya untuk memperbaiki masa lalu seseorang. 

Ada dua hal yang bisa manusia terima dari sebuah perkembangan teknologi. Dibantu, atau dimanja? Semua tergantung kita menyikapi segala persoalan yang ada. Teknologi memang berguna untuk membantu manusia menyelesaikan segala pekerjaan, tetapi tidak seharusnya kita terlena dan dininabobokan oleh kenyamanan segala bantuan tersebut. Sesungguhnya ilmu pengetahuan itu terbentang tanpa batas, dan teknologi adalah sebuah batu loncatan manusia untuk bisa menyusun ilmu pengetahuan baru, lagi dan lagi. 

Wednesday, April 15, 2015

assalamualaikum

minggu-minggu ini lagi rame TPB Cup. kemarin ikutan estafet. pertama kalinya seumur hidup. haha. seru lah ya tempur sama badan. beda. bukan cuma sama mata melawan ngantuk. bukan cuma sama otak maksain mikir. tapi juga sama kaki yang meronta ingin berhenti. sama paru-paru yang dipaksa bekerja lebih cepat. sama mental sepersekian detik melihat ada yang melaju lebih cepat; mau kejar atau pasrah? momen-momen yang mustahil didapat kalau nggak terjun langsung ke lapangan. maaf belum bisa menyumbang peluh lebih banyak Q01, maju terus sampai final!

dikagetkan (atau disadarkan?) dengan deadline yang tiba-tiba muncul di depan mata. bukan udah lama tapi diulur-ulur, tapi beberapa yang baru muncul sekaligus dan langsung ambil tempat. jangan pernah terlena dengan raker dan laporan ya. engga se heboh itu kok serius. belajar memusatkan pikiran dan perhatian di hal-hal lain juga ya. kalau di kelas jangan tidur atau sibuk sendiri terus ya. katanya mau produktif?

bismillah, semangat menceklis deretan to do list di buku hijau bung!


Saturday, April 4, 2015

assalamualaikum

kemarin ada Stadium General dari FATETA. pembicaranya seorang pemilik Sugar Group Companies, alumni FATETA angkatan 6. 

"...apapun pekerjaan yang sedang dipegang, jangan pernah dilepas.

...semua dimulai dari nol. semua butuh pengorbanan."

--Ir. M. Fauzi Thoha

terus pulang, ada acara aqiqah dede barunya kakak. ketemu sama bule yang dulu pernah tinggal di rumah pas SD, alumni GMSK (sekarang FEMA), dan jadi pengusaha.

"...bukan pengusaha namanya kalau belum ngalamin rugi, belum belajar."

--mba Aan

kompak banget kayaknya semesta menyentil sana sini.




Friday, April 3, 2015

Semua mimpi-mimpi kecil itu sebenarnya nggak sejauh itu, kok. Mungkin memang jalannya saja yang berliku. Mungkin memang medannya nggak segampang itu. 

Atau mungkin memang kamu yang kurang berlari? 

Kamu ada di sini untuk suatu tujuan. Harus membuang jauh-jauh pikiran 'si-ini-udah-gini-si-itu-udah-gitu-yang-di-sini-mah-ngapain-atuh-masih-pusing-sama-kalkulus-dan-ekum'. Semua step ada untuk dilewati. Memang butuh tahap yang ini untuk melaju ke tahap yang lain. Butuh belajar. Butuh cari tahu. Butuh adaptasi. Butuh usaha. Butuh gagal. Butuh jatuh. Butuh bisa bangkit lagi.

Butuh bermimpi. Butuh berdoa.

Belajar banyak dari prinsip ikhtiar dengan maksimal dan tawakkal sampai akhir. Beribu orang bilang (bahkan rasanya kamu pun pernah bilang); hasil akan berbanding lurus dengan usaha dan doa. Gimana mau hasil maksimal kalau usaha dan doanya nggak maksimal?

Kerjakan yang musti dikerjakan. Tapi jangan lupa sama mimpi-mimpi kecil yang pernah kamu gantung. Karena sesungguhnya semua kerjaan itu suatu saat akan membimbing kamu ke sana. Nggak lucu kan kalau udah sampai, mimpinya malah nggak ada. Nggak tergantung lagi di tempatnya. Terlupakan. Terus dari kemarin ngapain banting tulang buat sampai situ.

Niat dan ikhlaskan ya.

"Biarkan keyakinan kamu, 5 cm mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu kamu hanya perlu kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa."

--5 cm