HISAS 2018 Part 2; Winter in Hokkaido, Spring in Tokyo

by - 1:52 AM


Apa kabar, jalan yang ini?
264 hari yang lalu, masih hijau. Sudahkah dipenuhi bunga sakura hari ini?
Salam dari sini, semoga bisa dipertemukan lagi dengan warnamu yang lain.
(Juli 2016)
Keesokan harinya, hari presentasi. Dari pagi kami sudah bertolak menuju Hokkaido University. Konferensi dibagi menjadi beberapa topik, kami masuk ke kategori Pertanian. Seharian dihabiskan untuk rangkaian acara, presentasi, sambil juga menonton presentasi peserta-peserta lain yang tentunya keren dan inspiratif. Memang, salah satu benefit ikut acara seperti ini, jadi tersadarkan kalau masih banyak banget yang kamu engga tahu ya. Suka berasa kurang jauh mainnya. Jadi makin terpacu untuk tahu lebih banyak, karena setiap orang di situ handal di bidangnya masing-masing.

Di akhir acara, alhamdulillah kami berhasil membawa pulang titel Best Presenter. Selamat, Yudha si presenter!

Barakallah!

Sehari setelah presentasi, beberapa dari kami berkelana ke Otaru. Otaru adalah sebuah kota kecil dan pelabuhan di Hokkaido. Terkenal dengan kanalnya yang sempat menjadi akses utama distribusi barang dan terhubung dengan pelabuhan Otaru sebagai akses masuk ke Hokkaido. Kanal Otaru ini membentang sepanjang 1140 meter, dan dihiasi dengan bangunan-bangunan bergaya Eropa di tepinya. Semacam kota wisata juga, karena objek-objek menarik untuk dikunjungi memang terletak di sepanjang Kanal dan dapat dicapai dengan berjalan kaki.


Otaru

Kami berkelana hingga sore hari, kemudian kembali ke penginapan dan bersiap packing untuk pulang.

Pagi menjelang, dan tibalah hari kami harus meninggalkan Hokkaido. Kami mempunyai waktu sekitar dua hari penuh untuk tinggal di Tokyo sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta. Setelah menaiki pesawat kembali menuju Tokyo, hari itu diisi dengan perjalanan darat, hingga malamnya saya dan Putri sampai di apartemen kak Diwa, kak Ami dan kak Irma yang berbaik hati mempersilahkan kami tinggal selama di sana.

Hari pertama di Tokyo bertemu dengan Tsani. Kami berkomunikasi sejak 2016 lalu, ketika pertama kali pergi ke Jepang, tapi belum pernah kesampaian untuk bertemu. Akhirnya kita berjumpa di Genki Sushi dan jalan ke Harajuku. Pertemuan singkat namun sangat berkesan, ternyata memang sebaik ituuu orangnya tuh... dan sudah berpengalaman banget ngeguide sana sini, toplah. Tsani saat ini sedang menempuh pendidikan Master di salah satu perguruan tinggi ternama di Tokyo, mohon doanya supaya dimudahkan segala urusannya ya!

Ketambahan Hachiko

Saya, Putri dan Yudha sempat random jalan ke Odaiba di malamnya. Mau berfoto tapi sulit dan sangat effort karena dingin berangin gabisa pegang kamera. Baiklah takapa, dilihat langsung juga sudah bagus kok.

Hari kedua, sempat terheran karena gada angin apa tiba-tiba begitu keluar dari apartemen, disambut hujan salju... terhitung langka untuk Tokyo bersalju di bulan Maret. Jadi salah kostum, balik lagi ngedobel baju. Tapi sebentar sih, lebih banyak hujan airnya. Kami berencana ke Ueno Park karena kabarnya bunga Sakura sudah bermekaran di situ. Terakhir kali ke Ueno Park, musim panas tahun 2016. Saat itu semua pohonnya masih hijau. Masya Allah, ternyata benar-benar bisa dipertemukan dengan warnanya yang lain :)

Spring in Tokyo!

Hari itu kami juga bertemu dengan bang Madsol, TMB 50 yang sedang pertukaran ke Tokyo. Makan udon, kemudian jalan random lagi ke daerah Akihabara (literally jalan kaki karena kalau naik kereta nanggung stasiunnya dekat). Lihat-lihat segala macem, beli titipan, borong barang Daiso, dst dst. Ohiya, sempat ketemu ka Asya juga, panutan Forces yang sedang studi di Tohoku University! Walaupun sangat singkat karena ketemunya di stasiun, dan baik kami maupun kak Asya engga bisa lama-lama.  

Lagi-lagi, singkat namun bermakna.

Di perjalanan kali ini, dipertemukan dengan mereka yang walaupun hanya sebentar saja, tapi menyadarkan diri ini untuk selalu bersyukur, karena masih dikelilingi dengan orang-orang baik. Baik yang baru kenal, hanya yang komunikasi jarak jauh, bahkan yang sudah kenal lama tapi bertemu kembali di tempat yang berbeda.

Di beribu kilometer jauhnya dari rumah, ternyata, dunia tidak se asing yang kamu kira kok.

Pulang kembali ke Indonesia disambut dengan telapak tangan yang tiba-tiba mengelupas-kelupas heboh. Kedinginan ternyata, memang makhluk tropis.

Yak.. siapa sangka, di tahun yang sama, belahan dunia yang berbeda, diberikan kesempatan lagi melihat si butir es fenomenal itu. Alhamdulillah.

Sekian cerita perjalanannya kali ini. Wassalam!

You May Also Like

0 comments