Sunday, March 26, 2017

Paksaan

saat aku lelah menulis dan membaca
di atas buku-buku kuletakkan kepala
dan saat pipiku menyentuh sampulnya
hatiku tersengat
kewajibanku masih berjebah,
bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?
-Imam An Nawawi-


materi melingkar dua hari yang lalu.

paksaan dari Sultan Nuruddin Mahmud Zanki lah yang membuat seorang Shalahuddin Al Ayubi akhirnya ikut serta dalam peperangan. mengalahkan kebenciannya akan pertempuran dan pertumpahan darah, untuk akhirnya dapat menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. dimana akhirnya ia menemukan keindahan dalam peperangan itu sendiri.

paksaan turun dari langit ketika nabi Muhammad SAW pertama kali bertemu dengan Jibril. ia dipaksa untuk membaca. didekap erat hingga sesak. memaksa diri untuk mengeja perlahan. amatlah berat baginya hingga ia meminta untuk diselimuti ketika pulang. bergetar dan pucat.

”Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berikan peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah! Dan pakaianmu sucikanlah! Dan dosa-dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kau memberi dengan maksud mendapat yang lebih banyak!”

kemudian paksaan itulah yang pada akhirnya membuat beliau kuat. hingga menjadi rasul pembawa risalah Islam yang kita anut hingga sekarang. merubah dunia.

paksaan adalah sebuah kepahlawanan. Ia serupa sebuah pertempuran melawan ego dan nafsu diri. awal-awal, bisa jadi seseorang dipaksa lingkungan. lalu ia memaksa diri. awal-awal jiwanya payah, jasadnya lelah. lalu terbiasa. lalu terasa nikmat. lalu ia mengaca, menghayati kembali makna keikhlasan.

beranilah. tegas pada diri sendiri. paksaan dalam hal positif akan membuatmu kuat.

karena Allah bersamamu, kan?

kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar
hanya dirimu yang mengerdil
tenanglah, semata karena Allah bersamamu
maka tugasmu hanya berikhtiyar
dan di sana pahala surga menantimu

-Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang